Tuesday, May 17, 2022

Sekarat di Alam Mimpi

Di perempatan lampu merah,

Anak-anak beradu nasib dari pagi hingga malam

Berjalan ratusan kilometer dengan menenteng karung bekas berisi harapan masa depan

Hanya demi persoalan makan hari esok

Di halaman mini market,

Pemuda duduk beralaskan jas dengan menggenggam map biru dan sebungkus rokok

Dua tiga kali dihisap, asap rokok mengepul menutupi sebagian wajahnya

Tak bisa dihitung berapa banyak lamaran kerja yang tertolak

Dalam sebuah emperan pasar,

Bahan pokok yang naik ditambah harga jual yang rendah

Para pedagang tak mampu lagi mengandalkan keuntungan jual beli

Dalam sebuah ruangan berisi roti dengan selai cokelat yang tak pernah habis,

Para konglomerat berbincang perihal uang mana lagi yang akan hangus ditangan

Menyaksikan orang-orang yang mengutuki takdir sendiri

Melewati jalan tol yang mulus dengan banyak haru di kolong jembatan

Mengabaikan kasus-kasus kelaparan

Menutup telinga atas kabar mereka yang tertindas oleh sempitnya lapangan kerja

Kata adil dan makmur hanya untuk kaum mayoritas

Sejahtera selamanya mimpi yang tak kunjung nyata

Kita semua telah lama mati sebelum waktunya

No comments:

Post a Comment

Tuhan, Bebaskan !!!

Sebuah puisi untuk surgaku yang fana Hati anak mana yang tak teriris ketika menjadi saksi bahwa tubuh Sang Ibu digerogoti penyakit ganas Mer...